Rabu, 24 Juli 2019

Makalah ICT Tentang Pengertian Hakikat dan Karakter E-Learning


MAKALAH
PENGERTIAN HAKIKAT DAN KARAKTER E-LEARNING
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas pada Mata Kuliah Desain Pembelajaran PAI Berbasis ICT & Web  yang di ampu oleh :
Jhems Richard Hasan, S.Pd, M.Hum



Oleh  :  Kelompok 1
Merlis Hanta
181012046
Jasmin I Apjalu
181012081
Muthia Nur Kholifah
181012063
Meygita Putri Paputungan
181012053
Dian Astutik
181012056
Agustina H Ngabito
181012069
Fathiya Yusuf Olii
181012072




JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
IAIN SULTAN AMAI GORONTALO
2019



KATA PENGANTAR

Assalamualaikum. Wr. Wb

Alhamdulillahi Rabbil ‘Aalamiin, segala puji dan syukur kami  ucapkan kehadirat Allah  SWT, Rabb seluruh sekalian alam. Sehingga kami dapat membuat makalah dengan judul”Pengertian Hakikatn dan Karakteristik E-Learning” dalam mata kuliah Desain Pembelajaran PAI Berbasis ICT & Web.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Rasulullah Muhammad SAW, keluarga, para sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.
Kami  mengharapkan keridhaan Allah SWT, sekaligus ingin menjelaskan kepada pembaca agar mengetahui apa itu Pengertian Hakikat dan Karakteristik E-learning dan mengetahui bagaimana kegunaan E-learning dalam kehidupan sehari hari kita.
Kami  menyadari makalah ini banyak kekurangannya baik dari segi metedologi maupun materinya. Untuk itu, saya mengharapkan pembaca untuk dapat memberikan saran dan kritikan demi penyempurnaan makalah ini di masa mendatang.
Dan akhirnya,kami  berharap kiranya makalah ini dapat memberi manfaat bagi para pembaca semua. Aamiin Ya Rabbal ‘Aalamiin.

                                           



                                                                                                Gorontalo, Jum’at 5 April 2019



       Penulis




DAFTAR ISI

COVER............................................................................................................................... i
KATA PENGANTAR........................................................................................................ ii
DAFTAR ISI...................................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN.................................................................................................. 1
1.      Latar Belakang........................................................................................................ 1
2.      Rumusan Masalah.................................................................................................... 1
3.      Tujuan Masalah........................................................................................................ 1
BAB II PEMBAHASAN................................................................................................... 2
1.      Apa Definisi dari E-Learning.................................................................................. 2
2.      Bagaimana Sejarah Perkembangan E-Learning....................................................... 3
3.      Bagaimana Karakteristik E-Learning...................................................................... 3
BAB III PENUTUP............................................................................................................ 6
1.      Kesimpulan.............................................................................................................. 6
2.      Kritik Dan Saran...................................................................................................... 6
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................... 7




BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
Dunia pendidikan telah mengalami kemajuan pesat seiring dengan kemajuan teknologi informasi. Akibatnya, metode pendidikan lama atau konvensional dirasakan menjadi kurang efektif karena terbentur masalah ruang dan waktu. Dengan menggunakan bantuan teknologi, informasi dan komunikasi, dan adanya alat-alat dapat mengubah pikiran manusia,    mengubah cara kerja dan cara hidupnya. Demikian juga, pendidikan tidak terlepas dari pengaruh teknologi. Kejadian ini dapat diidentifikasikan sebagai kemajuan ilmu pengetahuan teknologi, informasi, dan komunikasi. Hakekat dari pembelajaran adalah untuk memperoleh pengetahuan, dan untuk memperoleh hal-hal tersebut, dapat dilakukan dengan mengikuti pelatihan atau dapat juga dengan membaca buku.  Namun dapa tdibayangkan apabila pelatihan tersebut dapat digantikan dengan meng gunakan bantuan alat seperti teknologi informasi dan komunikasi yang kini berkembang sedemikian pesatnya seiring dengan perkembangan jaman dan tela h merambah keberbagai aspek kehidupan manusia. Berdasarkan fakta yang ada, telah ditemukan upaya-upaya yang dilakukan untuk memajukan dunia pendidikan, dengan menciptakan/memperkenalkan sistem pembelajaran yang efektif dan efisien bagi guru dan peserta didik yaitu berupa pembelajaran jarak jauh dengan menggunakan media elektronika yang dikenal dengan E-Learning.

B.   Rumusan Masalah
1.      Apa definisi dari E-Learning?
2.      Bagaimana sejarah perkembangan E-Learning?
3.      Bagaimana karakteristik E-Learning?

C.   Tujuan Penulisan
1.      Untuk Mengetahui Definisi dari E-Learning
2.      Untuk Mengetahui Sejarah Perkembangan E-Learning
3.      Untuk Mengetahui Karakteristik E-Learning



BAB II
PEMBAHASAN

1.      Pengertian E-Learning
Banyak ahli yang menguraikan definisi E-Learning dari sudut pandang yang berbeda. Berikut merupakan pandangan-pandangan para ahli terkait definisi E-Learning, diantaranya :
 1. E-learning merupakan suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar kesiswa dengan menggunakan media internet atau media jaringan komputer lain [Hartley, 2001].
2. E-learning adalah sistem pendidikan yang menggunakan aplikasi elektronik untuk mendukung belajar mengajar dengan media internet, jaringan komputer, maupun komputer standalone [LearnFrame.Com, 2001].
3. Rosenberg (2001) menekankan bahwa E-Learning merujuk pada penggunaan teknologi internet untuk mengirimkan serangkaian solusi yang dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Hal ini senada dengan Cambell (2002), Kamarga (2002) yang intinya menekankan penggunaan internet dalam pendidikan sebagai hakekat e-learning.
4. Onno W. Purbo (2002) menjelaskan bahwa istilah “e”atau singkatan dari elektronik dalam E-Learning digunakan sebagai istilah untuk segala teknologi yang digunakan untuk mendukung usaha-usaha pengajaran lewat teknologi elektronik internet.
5.Jaya Kumar C. Koran (2002), mendefinisikan E-Learning sebagai sembarang Pengajaran dan pembelajaran yang menggunakan rangkaian elektronik (LAN, WAN,atau internet) untuk menyampaikan isi pembelajaran, interaksi, atau bimbingan.
6. Ong (dalam Kamarga, 2002)mendefinisikan e-learning sebagai kegiatan belajar asynchronous melalui perangkat elektronik komputer yang memperoleh bahan belajar yang sesuai dengan kebutuhannya.
Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa sistem atau konsep pendidikan yang memanfaatkan teknologi informasi dalam proses belajar mengajar dapat disebut sebagai suatu e-learning.



2.      Sejarah Dan Perkembangan E-Learning
Pembelajaran elektronik pertama kali diperkenalkan oleh universitas Illinois di Urbana-Champaign dengan menggunakan sistem instruksi berbasis komputer (computer-assisted instruction) dan komputer bernama PLATO. Sejak itu, perkembangan E-learning dari masa ke masa adalah sebagai berikut:
1. Tahun 1990 : Era CBT (Computer-Based Training) di mana mulai bermunculan aplikasi E-Learning yang berjalan dalam PC standlone ataupun berbentuk kemasan CD-ROM. Isi materi dalam bentuk tulisan maupun multimedia (Video dan AUDIO) DALAM FORMAT mov, mpeg-1, atau avi.
2. Tahun 1994 : Seiring dengan diterimanya CBT oleh masyarakat sejak tahun 1994 CBT muncul dalam bentuk paket-paket yang lebih menarik dan diproduksi secara massal.
3.  Tahun 1997 : LMS (Learning Management System). Seiring dengan perkembangan teknologi internet, masyarakat di dunia mulai terkoneksi dengan internet. Kebutuhan akan informasi yang dapat diperoleh dengan cepat mulai dirasakan sebagai kebutuhan mutlak , dan jarak serta lokasi bukanlah halangan lagi. Dari sinilah muncul LMS. Perkembangan LMS yang makin pesat membuat pemikiran baru untuk mengatasi masalah interoperability antar LMS yang satu dengan lainnya secara standar. Bentuk standar yang muncul misalnya standar yang dikeluarkan oleh AICC (Airline Industry CBT Commettee), IMS, SCORM, IEEE LOM, ARIADNE, dsb.
4. Tahun 1999 sebagai tahun Aplikasi E-learning berbasis Web. Perkembangan LMS menuju aplikasi E-Learning berbasis Web. Perkembang secara total, baik untuk pembelajar (learner) maupun administrasi belajar mengajarnya. LMS mulai digabungkan dengan situs-situs informasi, majalah, dan surat kabar. Isinya juga semakin kaya dengan perpaduan multimedia , video streaming, serta penampilan interaktif dalam berbagai pilihan format data yang lebih standar, dan berukuran kecil.

3.      Karakteristik E-Learning     
E-learning memiliki beberapa karakteristik. Karakteristik E-Learning, antara lain:
a. Memanfaatkan jasa teknologi elektronik (informasi dan komunikasi); di mana guru dan siswa, siswa dan sesama siswa atau guru dan sesama guru dapat berkomunikasi dengan relatif mudah dengan tanpa dibatasi oleh hal-hal yang protokoler. Teknologi yang digunakan dapat berupa internet sehingga penyampaian pesan dan komunikasi antara pebelajar dengan pebelajar, pebelajar dengan pembelajar, dan pembelajar dengan pembelajar dapat dilakukan secara mudah dan cepat.
b. Memanfaatkan keunggulan komputer (digital media dan computer networks).
c. Menggunakan bahan pelajaran yang bersifat mandiri (self learning materials) disimpan di komputer sehingga dapat diakses oleh guru dan siswa kapan saja dan di mana saja bila yang bersangkutan memerlukannya. Dengan menggunakan e-learning, pebelajar dituntut untuk melepaskan ketergantungannya terhadap pembelajar karena pembelajaran tidak dilakukan secara langsung. Dabbagh (2007) menjelaskan online learner harus memiliki kemampuan learn how to learn, memiliki disiplin, mampu memonitor perkembangannya sendiri, mampu memotivasi diri, dan mampu memanajemen diri. Intinya, dengan menggunakan E-Learning pembelajar dituntut untuk dapat mengorganisir dirinya sendiri dalam belajar. Oleh karena itu pembelajar harus dapat mendesain E-Learning yang dapat memotivasi pebelajar. Menurut Allen (2007) memotivasi pebelajar dalam E-Learning dapat dilakukan melalui konteks, tantangan, aktivitas yang bervariasi, dan umpan balik yang membangun.
d. Memanfaatkan jadwal pembelajaran, kurikulum, hasil kemajuan belajar dan hal-hal yang berkaitan dengan administrasi pendidikan dapat dilihat setiap saat di komputer.
e. Materi pembelajaran dapat disimpan di komputer.
f. Memanfaatkan komputer untuk proses pembelajaran dan juga mengetahui hasil kemajuan belajar, administrasi pendidikan, serta untuk mengetahui informasi yang banyak dari berbagai sumber informasi. Dari beberapa karakteristik ini, diperoleh pengetahuan bahwa pengembangan E-Learning tidak semata-mata hanya menyajikan materi pelajaran secara online saja, namun harus komunikatif dan menarik. Materi pelajaran didesain seolah siswa belajar di hadapan guru melalui layar komputer yang dihubungkan melalui jaringan internet. Untuk dapat menghasilkan E-Learning yang menarik dan diminati, Onno W. Purbo (2002) mensyaratkan tiga hal yang wajib dipenuhi dalam merancang E-Learning, yaitu “sederhana, personal, dan cepat”. Sistem yang sederhana akan memudahkan siswa dalam memanfaatkan teknologi dan menu yang ada, dengan kemudahan pada panel yang disediakan, akan mengurangi pengenalan sistem E-Learning itu sendiri, sehingga waktu belajar siswa dapat diefisienkan untuk proses belajar itu sendiri dan bukan pada belajar menggunakan sistem ELearning nya. Syarat personal berarti pengajar dapat berinteraksi dengan baik seperti layaknya seorang guru yang berkomunikasi dengan siswa di depan kelas. Dengan pendekatan dan interaksi yang lebih personal, siswa diperhatikan kemajuannya, serta dibantu segala persoalan yang dihadapinya. Hal ini akan membuat siswa betah berlama-lama di depan layar komputernya. Secara ringkas, E-Learning perlu diciptakan seolah-olah peserta didik belajar secara konvensional, hanya saja dipindahkan ke dalam sistem digital melalui internet. Karena itu E-Learning perlu mengadaptasi unsur-unsur yang biasa dilakukan dalam sistem pembelajaran konvensional. Misalnya dimulai dari perumusan tujuan yang operasional dan dapat diukur, ada apersepsi atau pre tes, membangkitkan motivasi, menggunakan bahasa yang komunikatif, uraian materi yang jelas. Contoh-contoh konkrit, problem solving, tanya jawab, diskusi, post test, sampai penugasan dan kegiatan tindak lanjutnya. Oleh karena itu merancang E-Learning perlu melibatkan pihak pihak terkait, seperti pengajar, ahli materi, ahli komunikasi, programmer dan ahli ahli lain yang terkait.



BAB III
PENUTUP
1.    Kesimpulan
E-Learning merupakan sistem atau konsep pendidikan yang memanfaatkan teknologi informasi dalam proses belajar mengajar. E-Learning memiliki karakteristik, diantaranya :
1. Memanfaatkan jasa teknologi elektronik (informasi dan komunikasi).
2. Memanfaatkan keunggulan komputer (digital media dan computer networks).
3. Menggunakan bahan pelajaran yang bersifat mandiri.
4. Memanfaatkan jadwal pembelajaran, kurikulum, hasil kemajuan belajar dan hal-hal yang berkaitan dengan administrasi pendidikan dapat dilihat setiap saat di komputer.
5. Materi pembelajaran dapat disimpan di komputer.
6. Memanfaatkan komputer untuk proses pembelajaran dan juga mengetahui hasil kemajuan belajar, administrasi pendidikan, serta untuk mengetahui informasi yang banyak dari berbagai sumber informasi.

2.   Saran
Bagi para pendidik, calon pendidik, atau orang-orang yang terjun dalam dunia pendidikan hendaknya dapat menggunakan pemanfaatan teknologi informasi yang saat ini sedang maju pesat. Sehingga pembelajaranpun dapat berjalan dengan efektif dan menarik.


DAFTAR PUSTAKA

SaefudinSa’ud, Udin, InovasiPendidikan.Bandung :Alfabeta, 2008. Sinarharapan

Selasa, 23 Juli 2019

Musuh Utama Agama Itu Diri Sendiri







Setelah menulis judul ini sebagai penulis mungkin menduga akan banyak menggugatnya. Bagi kalangan yang suntuk mempelajari agama, membaca lembaran- lebaran kitab sucinya, meresapi permenungannya atau menghapal ayat -- ayat penting yang menjadi modal manusia beragama. Penulis tahu betapa sensitifnya agama saat ini sehingga menghinanya saja sudah mendapat sangsi sosial sangat berat. Siapa yang mengkritik agama akan mendapat perlawanan karena banyak laskar yang akan membela mati- matian dengan doktrin ketatnya.
Sumber Konflik Agama itu Egoisme

Lalu esensi sebenarnya beragama itu apa? Untuk syarat menuju Surga, syarat membangun moral, membangun peradaban atau sekedar tidak dianggap Atheis. Yang penulis tahu esensi beragama adalah mendekatkan manusia pada Pencipta alam semesta, menyayangi Tuhan karena telah memberi kehidupan, memberi kebahagiaan, memberi kesenangan namun juga memberi ujian- ujian yang menguatkan mental sebagai manusia yang harus tangguh menghadapi kesulitan ujian kehidupan dan nasib buruk.

Mengapa banyak agama sekarang ini amat takut dengan intervensi agama lain, merasa tersaingi, merasa terancam ketika ada orang yang berusaha mengajarkan kebaikan dengan cara agama mereka. Keterancaman membuat penganut agama terpancing untuk melakukan perlawanan, membenci dan menganggap musuh agama lain. Kejadiannya bisa ditebak, sejak agama wahyu bermunculan tidak kurang- kurang konflik bermunculan. Perang terus berkecamuk hingga memakan korban ribuan bahkan jutaan manusia tiap  tahunnya. Jika agama- agama dunia saling berkonflik apa relevansinya dengan ajaran inti yaitu kasih sayang. Apakah demi membela agama mereka melupakan esensi untuk menghormati Sang Pencipta dengan cara saling menebarkan kasih sayang? Banyak yang lupa ketika larut dalam doktrin agama  setiap agama selalu mengajarkan kasih sayang, cinta, saling menghargai, mencinta sesama dengan tulus tanpa embel- embel.

Sayangnya manusia selalu lupa bahwa agama yang muncul di dunia adalah untuk mengendalikan manusia dari kejahatan, kekejian, melorotnya peradaban, pelecehan seksual, pengendalian nafsu sex dan kemudian terlembaga dalam  aturan yang membatasi manusia melakukan tindakan asusila,menjaga manusia berpikir rasional, beda dengan naluri makhluk lain seperti hewan dan makhluk lain yang tidak diberi keistimewaan serupa dengan Tuhan. Musuh terbesar agama dan juga manusia adalah diri sendiri. Hal terberat saat mencoba mendalami ajaran agama adalah bila mampu mengalahkan nafsu diri sendiri, mengalahkan setan- setan yang bersemayam dalam jiwa manusia. Sekarang banyak manusia yang secara identitas melabeli diri sendiri suci dan Sholeh, namun bicaranya tingkah lakunya dan pergaulannya tidak mencerminkan bahwa ia menjalankan ajaran agama dengan benar.

Suci hanyalah yang terlihat di jasmaninya dengan baju- baju yang menempel di tubuhnya dan gelar- gelar yang didapatkan dari perintah- perintah agama sebagai syarat untuk mendapat gelar yang didamba banyak orang. Orang- orang politik saat ini memanfaatkan agama demi meraih kekuasaan, meraup kepercayaan masyarakat yang sebetulnya  belum mengerti sepenuhnya esensi beragama. Semuanya masih hitung- hitungan kebaikan dari matematika jasmani.

Hitung- hitungan kebaikan yang tercatat di mata? Apakah manusia menyadari bahwa disamping catatan jasmani bathin manusia juga perlu mendapat pencerahan. Ketulusan manusia  akan mendorong manusia tulus membiarkan manusia lain melakukan ritual agama menurut kenyamanan diri pribadi. Hal terberat adalah pengendalian diri, melawan musuh yang muncul dari manusia sendiri. Jika membenci seseorang apakah manusia bisa memaafkan yang sedang dibenci, apakah mampu melupakan dosa- dosa yang diperbuat manusia lain. Manusia lebih piawai mencatat dosa dosa orang lain, lebih cerdas mengingat keburukan- keburukan manusia lain daripada kesalahan -- kesalahan yang datang dari diri sendiri. Ketika banyak negara- negara berbasis agama hancur sebetulnya musuhnya bukan orang lain, musuh terbesarnya adalah agama mereka sendiri dan ego diri yang lebih besar daripada mencoba memahami manusia lain dengan semua keterbatasannya.

Egoisme manusia telah membuat setan- setan merasuk dalam jiwa sehingga mendorong mereka manusia berusaha menghakimi orang  lain, keyakinan lain, mazhab lain.  Mereka meyakini dirinyalah yang paling benar yang lain salah dan patut disingkirkan, dibasmi. Banyak manusia membelokkan doktrin yang sebenarnya bila dipikirkan mengajarkan kebaikan dan cinta kasih tetapi disalahartikan. Iblis yang paling menakutkan adalah iblis yang datang dari nafsu manusia sendiri. Bisa jadi mesin pembunuh paling keji adalah diri sendiri karena bila sudah yakin dirinya merasa benar maka kebenaran lainnya diabaikan. Manusia yang sudah merasa benar susah diberi masukan karena sudah tertutup kesombongan dan perasaan paling terpilih dibanding makhluk lain.
Introspeksi dan Menelaah Nalar Manusia            

Cobalah membaca buku buku Rabindranath Natagore, Ajahn Brahm, Antony de Mello, Sang Budha Gautama, Sufi -- Sufi. Kyai -- Kyai langitan yang lebih sering merenung dan berdoa dengan membuat permenungan, meditasi, melakukan tapa brata, puasa ngebleng. Mereka yang berusaha melawan keinginan liar diri sendiri. Selalu introspeksi bertanya pada bathin.
sumber : ilustrasi motivasinews.com

Semakin berdoa akan semakin melihat banyak kekurangan diri sendiri yang perlu dibenahi. Surga utama mereka adalah jika bisa mengalahkan hasrat diri sendiri untuk berusaha menguasai orang lain dan menganggap dirinya sendirilah yang tersuci. Penulis ingat pepatah dari  ilmu padi; Semakin berisi semakin merunduk, Semakin berilmu tentu akan semakin menyadari keistimewaan orang lain dan menganggap orang lain layak dihargai siapapun dan apapun profesinya karena setiap manusia adalah istimewa. Selintas Penulis membaca buku Donald B Calne tentang Batas Nalar. Menurut Sopocles Nalar adalah puncak Anugrah Allah kepada manusia dan seabad kemudian Aristoteles menulis juga tentang nalar;Oleh karena itu bagi manusia, kehidupan berdasarkan nalar adalah yang terbaik dan yang paling menyenangkan, karena lebih daripada apapun juga, nalar adalah diri sendiri. Puncak kesadaran kehidupan manusia adalah nalar ditambah dengan pemahaman akan agama maka seharusnya manusia bisa terbebaskan dari tindakan keji sebab otak manusia sudah diberi keistimewaan dengan mempunyai nalar dan pola pemikiran bijak yang ebrasal dari diri sendiri.

Ternyata meskipun mempunyai nalar dan pendidikan tinggi tidak semua manusia bisa dan mampu mengendalikan diri sendiri. Ketika gagal mengendalikan diri ada dorongan manusia menjadi semakin menjauhkan diri dari rasionalitas, lebih dikendalikan oleh ego hingga muncul pemikiran radikal. Saya sendiri masih jauh panggang dari api karena untuk mengalahkan keinginan sendiri masih sulit, apalagi mencoba menahan godaan untuk tidak merisak keyakinan orang lain. Kadang saya masih merasa benci ketika ada orang berubah keyakinan.  Padahal keyakinan sesungguhnya hak setiap manusia, tetapi bagaimanapun manusia adalah makhluk terlemah ketika ia dibawa pada godaan- godaan pada kekuasaan, kekayaan, kenikmatan, nafsu seksual dan kerling mata beda jenis,Salam Damai Selalu.


Sumber :


Tempat Download Gratis

1. Artikel Gratis | Download