Selasa, 23 Juli 2019

Musuh Utama Agama Itu Diri Sendiri







Setelah menulis judul ini sebagai penulis mungkin menduga akan banyak menggugatnya. Bagi kalangan yang suntuk mempelajari agama, membaca lembaran- lebaran kitab sucinya, meresapi permenungannya atau menghapal ayat -- ayat penting yang menjadi modal manusia beragama. Penulis tahu betapa sensitifnya agama saat ini sehingga menghinanya saja sudah mendapat sangsi sosial sangat berat. Siapa yang mengkritik agama akan mendapat perlawanan karena banyak laskar yang akan membela mati- matian dengan doktrin ketatnya.
Sumber Konflik Agama itu Egoisme

Lalu esensi sebenarnya beragama itu apa? Untuk syarat menuju Surga, syarat membangun moral, membangun peradaban atau sekedar tidak dianggap Atheis. Yang penulis tahu esensi beragama adalah mendekatkan manusia pada Pencipta alam semesta, menyayangi Tuhan karena telah memberi kehidupan, memberi kebahagiaan, memberi kesenangan namun juga memberi ujian- ujian yang menguatkan mental sebagai manusia yang harus tangguh menghadapi kesulitan ujian kehidupan dan nasib buruk.

Mengapa banyak agama sekarang ini amat takut dengan intervensi agama lain, merasa tersaingi, merasa terancam ketika ada orang yang berusaha mengajarkan kebaikan dengan cara agama mereka. Keterancaman membuat penganut agama terpancing untuk melakukan perlawanan, membenci dan menganggap musuh agama lain. Kejadiannya bisa ditebak, sejak agama wahyu bermunculan tidak kurang- kurang konflik bermunculan. Perang terus berkecamuk hingga memakan korban ribuan bahkan jutaan manusia tiap  tahunnya. Jika agama- agama dunia saling berkonflik apa relevansinya dengan ajaran inti yaitu kasih sayang. Apakah demi membela agama mereka melupakan esensi untuk menghormati Sang Pencipta dengan cara saling menebarkan kasih sayang? Banyak yang lupa ketika larut dalam doktrin agama  setiap agama selalu mengajarkan kasih sayang, cinta, saling menghargai, mencinta sesama dengan tulus tanpa embel- embel.

Sayangnya manusia selalu lupa bahwa agama yang muncul di dunia adalah untuk mengendalikan manusia dari kejahatan, kekejian, melorotnya peradaban, pelecehan seksual, pengendalian nafsu sex dan kemudian terlembaga dalam  aturan yang membatasi manusia melakukan tindakan asusila,menjaga manusia berpikir rasional, beda dengan naluri makhluk lain seperti hewan dan makhluk lain yang tidak diberi keistimewaan serupa dengan Tuhan. Musuh terbesar agama dan juga manusia adalah diri sendiri. Hal terberat saat mencoba mendalami ajaran agama adalah bila mampu mengalahkan nafsu diri sendiri, mengalahkan setan- setan yang bersemayam dalam jiwa manusia. Sekarang banyak manusia yang secara identitas melabeli diri sendiri suci dan Sholeh, namun bicaranya tingkah lakunya dan pergaulannya tidak mencerminkan bahwa ia menjalankan ajaran agama dengan benar.

Suci hanyalah yang terlihat di jasmaninya dengan baju- baju yang menempel di tubuhnya dan gelar- gelar yang didapatkan dari perintah- perintah agama sebagai syarat untuk mendapat gelar yang didamba banyak orang. Orang- orang politik saat ini memanfaatkan agama demi meraih kekuasaan, meraup kepercayaan masyarakat yang sebetulnya  belum mengerti sepenuhnya esensi beragama. Semuanya masih hitung- hitungan kebaikan dari matematika jasmani.

Hitung- hitungan kebaikan yang tercatat di mata? Apakah manusia menyadari bahwa disamping catatan jasmani bathin manusia juga perlu mendapat pencerahan. Ketulusan manusia  akan mendorong manusia tulus membiarkan manusia lain melakukan ritual agama menurut kenyamanan diri pribadi. Hal terberat adalah pengendalian diri, melawan musuh yang muncul dari manusia sendiri. Jika membenci seseorang apakah manusia bisa memaafkan yang sedang dibenci, apakah mampu melupakan dosa- dosa yang diperbuat manusia lain. Manusia lebih piawai mencatat dosa dosa orang lain, lebih cerdas mengingat keburukan- keburukan manusia lain daripada kesalahan -- kesalahan yang datang dari diri sendiri. Ketika banyak negara- negara berbasis agama hancur sebetulnya musuhnya bukan orang lain, musuh terbesarnya adalah agama mereka sendiri dan ego diri yang lebih besar daripada mencoba memahami manusia lain dengan semua keterbatasannya.

Egoisme manusia telah membuat setan- setan merasuk dalam jiwa sehingga mendorong mereka manusia berusaha menghakimi orang  lain, keyakinan lain, mazhab lain.  Mereka meyakini dirinyalah yang paling benar yang lain salah dan patut disingkirkan, dibasmi. Banyak manusia membelokkan doktrin yang sebenarnya bila dipikirkan mengajarkan kebaikan dan cinta kasih tetapi disalahartikan. Iblis yang paling menakutkan adalah iblis yang datang dari nafsu manusia sendiri. Bisa jadi mesin pembunuh paling keji adalah diri sendiri karena bila sudah yakin dirinya merasa benar maka kebenaran lainnya diabaikan. Manusia yang sudah merasa benar susah diberi masukan karena sudah tertutup kesombongan dan perasaan paling terpilih dibanding makhluk lain.
Introspeksi dan Menelaah Nalar Manusia            

Cobalah membaca buku buku Rabindranath Natagore, Ajahn Brahm, Antony de Mello, Sang Budha Gautama, Sufi -- Sufi. Kyai -- Kyai langitan yang lebih sering merenung dan berdoa dengan membuat permenungan, meditasi, melakukan tapa brata, puasa ngebleng. Mereka yang berusaha melawan keinginan liar diri sendiri. Selalu introspeksi bertanya pada bathin.
sumber : ilustrasi motivasinews.com

Semakin berdoa akan semakin melihat banyak kekurangan diri sendiri yang perlu dibenahi. Surga utama mereka adalah jika bisa mengalahkan hasrat diri sendiri untuk berusaha menguasai orang lain dan menganggap dirinya sendirilah yang tersuci. Penulis ingat pepatah dari  ilmu padi; Semakin berisi semakin merunduk, Semakin berilmu tentu akan semakin menyadari keistimewaan orang lain dan menganggap orang lain layak dihargai siapapun dan apapun profesinya karena setiap manusia adalah istimewa. Selintas Penulis membaca buku Donald B Calne tentang Batas Nalar. Menurut Sopocles Nalar adalah puncak Anugrah Allah kepada manusia dan seabad kemudian Aristoteles menulis juga tentang nalar;Oleh karena itu bagi manusia, kehidupan berdasarkan nalar adalah yang terbaik dan yang paling menyenangkan, karena lebih daripada apapun juga, nalar adalah diri sendiri. Puncak kesadaran kehidupan manusia adalah nalar ditambah dengan pemahaman akan agama maka seharusnya manusia bisa terbebaskan dari tindakan keji sebab otak manusia sudah diberi keistimewaan dengan mempunyai nalar dan pola pemikiran bijak yang ebrasal dari diri sendiri.

Ternyata meskipun mempunyai nalar dan pendidikan tinggi tidak semua manusia bisa dan mampu mengendalikan diri sendiri. Ketika gagal mengendalikan diri ada dorongan manusia menjadi semakin menjauhkan diri dari rasionalitas, lebih dikendalikan oleh ego hingga muncul pemikiran radikal. Saya sendiri masih jauh panggang dari api karena untuk mengalahkan keinginan sendiri masih sulit, apalagi mencoba menahan godaan untuk tidak merisak keyakinan orang lain. Kadang saya masih merasa benci ketika ada orang berubah keyakinan.  Padahal keyakinan sesungguhnya hak setiap manusia, tetapi bagaimanapun manusia adalah makhluk terlemah ketika ia dibawa pada godaan- godaan pada kekuasaan, kekayaan, kenikmatan, nafsu seksual dan kerling mata beda jenis,Salam Damai Selalu.


Sumber :


Tidak ada komentar:

Posting Komentar