Setelah menulis
judul ini sebagai penulis mungkin menduga akan banyak menggugatnya. Bagi
kalangan yang suntuk mempelajari agama, membaca lembaran- lebaran kitab
sucinya, meresapi permenungannya atau menghapal ayat -- ayat penting yang
menjadi modal manusia beragama. Penulis tahu betapa sensitifnya agama saat ini
sehingga menghinanya saja sudah mendapat sangsi sosial sangat berat. Siapa yang
mengkritik agama akan mendapat perlawanan karena banyak laskar yang akan membela
mati- matian dengan doktrin ketatnya.
Sumber Konflik Agama itu Egoisme
Lalu esensi
sebenarnya beragama itu apa? Untuk syarat menuju Surga, syarat membangun moral,
membangun peradaban atau sekedar tidak dianggap Atheis. Yang penulis tahu
esensi beragama adalah mendekatkan manusia pada Pencipta alam semesta,
menyayangi Tuhan karena telah memberi kehidupan, memberi kebahagiaan, memberi
kesenangan namun juga memberi ujian- ujian yang menguatkan mental sebagai
manusia yang harus tangguh menghadapi kesulitan ujian kehidupan dan nasib
buruk.
Mengapa banyak
agama sekarang ini amat takut dengan intervensi agama lain, merasa tersaingi,
merasa terancam ketika ada orang yang berusaha mengajarkan kebaikan dengan cara
agama mereka. Keterancaman membuat penganut agama terpancing untuk melakukan
perlawanan, membenci dan menganggap musuh agama lain. Kejadiannya bisa ditebak,
sejak agama wahyu bermunculan tidak kurang- kurang konflik bermunculan. Perang
terus berkecamuk hingga memakan korban ribuan bahkan jutaan manusia tiap tahunnya. Jika agama- agama dunia saling
berkonflik apa relevansinya dengan ajaran inti yaitu kasih sayang. Apakah demi
membela agama mereka melupakan esensi untuk menghormati Sang Pencipta dengan
cara saling menebarkan kasih sayang? Banyak yang lupa ketika larut dalam
doktrin agama setiap agama selalu
mengajarkan kasih sayang, cinta, saling menghargai, mencinta sesama dengan
tulus tanpa embel- embel.
Sayangnya manusia selalu lupa bahwa agama yang
muncul di dunia adalah untuk mengendalikan manusia dari kejahatan, kekejian,
melorotnya peradaban, pelecehan seksual, pengendalian nafsu sex dan kemudian
terlembaga dalam aturan yang membatasi
manusia melakukan tindakan asusila,menjaga manusia berpikir rasional, beda dengan
naluri makhluk lain seperti hewan dan makhluk lain yang tidak diberi
keistimewaan serupa dengan Tuhan. Musuh terbesar agama dan juga manusia adalah
diri sendiri. Hal terberat saat mencoba mendalami ajaran agama adalah bila
mampu mengalahkan nafsu diri sendiri, mengalahkan setan- setan yang bersemayam
dalam jiwa manusia. Sekarang banyak manusia yang secara identitas melabeli diri
sendiri suci dan Sholeh, namun bicaranya tingkah lakunya dan pergaulannya tidak
mencerminkan bahwa ia menjalankan ajaran agama dengan benar.
Suci hanyalah
yang terlihat di jasmaninya dengan baju- baju yang menempel di tubuhnya dan
gelar- gelar yang didapatkan dari perintah- perintah agama sebagai syarat untuk
mendapat gelar yang didamba banyak orang. Orang- orang politik saat ini
memanfaatkan agama demi meraih kekuasaan, meraup kepercayaan masyarakat yang
sebetulnya belum mengerti sepenuhnya
esensi beragama. Semuanya masih hitung- hitungan kebaikan dari matematika
jasmani.
Hitung- hitungan
kebaikan yang tercatat di mata? Apakah manusia menyadari bahwa disamping catatan
jasmani bathin manusia juga perlu mendapat pencerahan. Ketulusan manusia akan mendorong manusia tulus membiarkan
manusia lain melakukan ritual agama menurut kenyamanan diri pribadi. Hal
terberat adalah pengendalian diri, melawan musuh yang muncul dari manusia
sendiri. Jika membenci seseorang apakah manusia bisa memaafkan yang sedang
dibenci, apakah mampu melupakan dosa- dosa yang diperbuat manusia lain. Manusia
lebih piawai mencatat dosa dosa orang lain, lebih cerdas mengingat keburukan-
keburukan manusia lain daripada kesalahan -- kesalahan yang datang dari diri
sendiri. Ketika banyak negara- negara berbasis agama hancur sebetulnya musuhnya
bukan orang lain, musuh terbesarnya adalah agama mereka sendiri dan ego diri
yang lebih besar daripada mencoba memahami manusia lain dengan semua
keterbatasannya.
Egoisme manusia
telah membuat setan- setan merasuk dalam jiwa sehingga mendorong mereka manusia
berusaha menghakimi orang lain,
keyakinan lain, mazhab lain. Mereka
meyakini dirinyalah yang paling benar yang lain salah dan patut disingkirkan,
dibasmi. Banyak manusia membelokkan doktrin yang sebenarnya bila dipikirkan
mengajarkan kebaikan dan cinta kasih tetapi disalahartikan. Iblis yang paling
menakutkan adalah iblis yang datang dari nafsu manusia sendiri. Bisa jadi mesin
pembunuh paling keji adalah diri sendiri karena bila sudah yakin dirinya merasa
benar maka kebenaran lainnya diabaikan. Manusia yang sudah merasa benar susah
diberi masukan karena sudah tertutup kesombongan dan perasaan paling terpilih dibanding
makhluk lain.
Introspeksi dan Menelaah Nalar
Manusia
Cobalah membaca
buku buku Rabindranath Natagore, Ajahn Brahm, Antony de Mello, Sang Budha
Gautama, Sufi -- Sufi. Kyai -- Kyai langitan yang lebih sering merenung dan
berdoa dengan membuat permenungan, meditasi, melakukan tapa brata, puasa
ngebleng. Mereka yang berusaha melawan keinginan liar diri sendiri. Selalu
introspeksi bertanya pada bathin.
sumber : ilustrasi motivasinews.com
Semakin berdoa
akan semakin melihat banyak kekurangan diri sendiri yang perlu dibenahi. Surga
utama mereka adalah jika bisa mengalahkan hasrat diri sendiri untuk berusaha
menguasai orang lain dan menganggap dirinya sendirilah yang tersuci. Penulis
ingat pepatah dari ilmu padi; Semakin
berisi semakin merunduk, Semakin berilmu tentu akan semakin menyadari
keistimewaan orang lain dan menganggap orang lain layak dihargai siapapun dan
apapun profesinya karena setiap manusia adalah istimewa. Selintas Penulis
membaca buku Donald B Calne tentang Batas Nalar. Menurut Sopocles Nalar adalah
puncak Anugrah Allah kepada manusia dan seabad kemudian Aristoteles menulis
juga tentang nalar;Oleh karena itu bagi manusia, kehidupan berdasarkan nalar
adalah yang terbaik dan yang paling menyenangkan, karena lebih daripada apapun
juga, nalar adalah diri sendiri. Puncak kesadaran kehidupan manusia adalah
nalar ditambah dengan pemahaman akan agama maka seharusnya manusia bisa
terbebaskan dari tindakan keji sebab otak manusia sudah diberi keistimewaan
dengan mempunyai nalar dan pola pemikiran bijak yang ebrasal dari diri sendiri.
Ternyata meskipun
mempunyai nalar dan pendidikan tinggi tidak semua manusia bisa dan mampu
mengendalikan diri sendiri. Ketika gagal mengendalikan diri ada dorongan
manusia menjadi semakin menjauhkan diri dari rasionalitas, lebih dikendalikan
oleh ego hingga muncul pemikiran radikal. Saya sendiri masih jauh panggang dari
api karena untuk mengalahkan keinginan sendiri masih sulit, apalagi mencoba
menahan godaan untuk tidak merisak keyakinan orang lain. Kadang saya masih
merasa benci ketika ada orang berubah keyakinan. Padahal keyakinan sesungguhnya hak setiap
manusia, tetapi bagaimanapun manusia adalah makhluk terlemah ketika ia dibawa
pada godaan- godaan pada kekuasaan, kekayaan, kenikmatan, nafsu seksual dan
kerling mata beda jenis,Salam Damai Selalu.
Sumber :

Tidak ada komentar:
Posting Komentar