https://www.youtube.com/watch?v=JDNFcsxJLKc
Kamis, 25 Juli 2019
Rabu, 24 Juli 2019
Makalah ICT Tentang Pengertian Hakikat dan Karakter E-Learning
MAKALAH
PENGERTIAN
HAKIKAT DAN KARAKTER E-LEARNING
Diajukan
untuk memenuhi salah satu tugas pada Mata Kuliah Desain Pembelajaran PAI
Berbasis ICT & Web yang di ampu oleh
:
Jhems Richard Hasan, S.Pd, M.Hum
Oleh :
Kelompok 1
|
Merlis
Hanta
|
181012046
|
|
Jasmin
I Apjalu
|
181012081
|
|
Muthia
Nur Kholifah
|
181012063
|
|
Meygita
Putri Paputungan
|
181012053
|
|
Dian
Astutik
|
181012056
|
|
Agustina
H Ngabito
|
181012069
|
|
Fathiya
Yusuf Olii
|
181012072
|
JURUSAN
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS
ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
IAIN
SULTAN AMAI GORONTALO
2019
KATA
PENGANTAR
Assalamualaikum. Wr. Wb
Alhamdulillahi Rabbil
‘Aalamiin, segala puji dan syukur kami ucapkan kehadirat
Allah SWT, Rabb seluruh sekalian alam. Sehingga kami dapat membuat
makalah dengan judul”Pengertian Hakikatn dan Karakteristik E-Learning” dalam
mata kuliah Desain Pembelajaran PAI Berbasis ICT & Web.
Shalawat dan salam
semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Rasulullah Muhammad SAW,
keluarga, para sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.
Kami mengharapkan keridhaan Allah SWT,
sekaligus ingin menjelaskan kepada pembaca agar mengetahui apa itu Pengertian
Hakikat dan Karakteristik E-learning dan mengetahui bagaimana kegunaan
E-learning dalam kehidupan sehari hari kita.
Kami menyadari
makalah ini banyak kekurangannya baik dari segi metedologi maupun materinya.
Untuk itu, saya mengharapkan pembaca untuk dapat memberikan saran dan kritikan
demi penyempurnaan makalah ini di masa mendatang.
Dan
akhirnya,kami berharap kiranya makalah ini dapat memberi manfaat
bagi para pembaca semua. Aamiin Ya Rabbal ‘Aalamiin.
Gorontalo,
Jum’at 5 April 2019
Penulis
DAFTAR
ISI
COVER............................................................................................................................... i
KATA PENGANTAR........................................................................................................ ii
DAFTAR ISI...................................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN.................................................................................................. 1
1.
Latar Belakang........................................................................................................ 1
2.
Rumusan Masalah.................................................................................................... 1
3.
Tujuan Masalah........................................................................................................ 1
BAB II PEMBAHASAN................................................................................................... 2
1.
Apa Definisi
dari E-Learning.................................................................................. 2
2.
Bagaimana
Sejarah Perkembangan E-Learning....................................................... 3
3.
Bagaimana
Karakteristik E-Learning...................................................................... 3
BAB III PENUTUP............................................................................................................ 6
1.
Kesimpulan.............................................................................................................. 6
2.
Kritik Dan Saran...................................................................................................... 6
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................... 7
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dunia pendidikan telah mengalami
kemajuan pesat seiring dengan kemajuan teknologi informasi. Akibatnya, metode pendidikan
lama atau konvensional dirasakan menjadi kurang efektif karena terbentur masalah
ruang dan waktu. Dengan menggunakan bantuan teknologi, informasi dan komunikasi,
dan adanya alat-alat dapat mengubah pikiran manusia, mengubah cara kerja dan cara hidupnya.
Demikian juga, pendidikan tidak terlepas dari pengaruh teknologi. Kejadian ini dapat
diidentifikasikan sebagai kemajuan ilmu pengetahuan teknologi, informasi, dan komunikasi.
Hakekat dari pembelajaran adalah untuk memperoleh pengetahuan, dan untuk memperoleh
hal-hal tersebut, dapat dilakukan dengan mengikuti pelatihan atau dapat juga dengan
membaca buku. Namun dapa tdibayangkan apabila
pelatihan tersebut dapat digantikan dengan meng gunakan bantuan alat seperti teknologi
informasi dan komunikasi yang kini berkembang sedemikian pesatnya seiring dengan
perkembangan jaman dan tela h merambah keberbagai aspek kehidupan manusia.
Berdasarkan fakta yang ada, telah ditemukan upaya-upaya yang dilakukan untuk memajukan
dunia pendidikan, dengan menciptakan/memperkenalkan sistem pembelajaran yang
efektif dan efisien bagi guru dan peserta didik yaitu berupa pembelajaran jarak
jauh dengan menggunakan media elektronika yang dikenal dengan E-Learning.
B. Rumusan Masalah
1. Apa
definisi dari E-Learning?
2. Bagaimana
sejarah perkembangan E-Learning?
3. Bagaimana
karakteristik E-Learning?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk
Mengetahui Definisi dari E-Learning
2. Untuk
Mengetahui Sejarah Perkembangan E-Learning
3. Untuk
Mengetahui Karakteristik E-Learning
BAB
II
PEMBAHASAN
1.
Pengertian
E-Learning
Banyak ahli yang
menguraikan definisi E-Learning dari sudut pandang yang berbeda. Berikut merupakan
pandangan-pandangan para ahli terkait definisi E-Learning, diantaranya :
1. E-learning
merupakan suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan
ajar kesiswa dengan menggunakan media internet atau media jaringan komputer
lain [Hartley, 2001].
2. E-learning adalah sistem pendidikan yang
menggunakan aplikasi elektronik untuk mendukung belajar mengajar dengan media
internet, jaringan komputer, maupun komputer standalone [LearnFrame.Com, 2001].
3. Rosenberg (2001) menekankan bahwa E-Learning
merujuk pada penggunaan teknologi internet untuk mengirimkan serangkaian solusi
yang dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Hal ini senada dengan
Cambell (2002), Kamarga (2002) yang intinya menekankan penggunaan internet
dalam pendidikan sebagai hakekat e-learning.
4. Onno W. Purbo (2002) menjelaskan bahwa istilah
“e”atau singkatan dari elektronik dalam E-Learning digunakan sebagai istilah
untuk segala teknologi yang digunakan untuk mendukung usaha-usaha pengajaran
lewat teknologi elektronik internet.
5.Jaya Kumar C. Koran (2002), mendefinisikan
E-Learning sebagai sembarang Pengajaran dan pembelajaran yang menggunakan
rangkaian elektronik (LAN, WAN,atau internet) untuk menyampaikan isi
pembelajaran, interaksi, atau bimbingan.
6. Ong (dalam Kamarga, 2002)mendefinisikan
e-learning sebagai kegiatan belajar asynchronous melalui perangkat elektronik
komputer yang memperoleh bahan belajar yang sesuai dengan kebutuhannya.
Dari definisi tersebut
dapat disimpulkan bahwa sistem atau konsep pendidikan yang memanfaatkan
teknologi informasi dalam proses belajar mengajar dapat disebut sebagai suatu
e-learning.
2.
Sejarah
Dan Perkembangan E-Learning
Pembelajaran elektronik
pertama kali diperkenalkan oleh universitas Illinois di Urbana-Champaign dengan
menggunakan sistem instruksi berbasis komputer (computer-assisted instruction)
dan komputer bernama PLATO. Sejak itu, perkembangan E-learning dari masa ke
masa adalah sebagai berikut:
1. Tahun 1990 : Era CBT (Computer-Based Training) di
mana mulai bermunculan aplikasi E-Learning yang berjalan dalam PC standlone
ataupun berbentuk kemasan CD-ROM. Isi materi dalam bentuk tulisan maupun
multimedia (Video dan AUDIO) DALAM FORMAT mov, mpeg-1, atau avi.
2. Tahun 1994 : Seiring dengan diterimanya CBT oleh
masyarakat sejak tahun 1994 CBT muncul dalam bentuk paket-paket yang lebih
menarik dan diproduksi secara massal.
3. Tahun 1997
: LMS (Learning Management System). Seiring dengan perkembangan teknologi
internet, masyarakat di dunia mulai terkoneksi dengan internet. Kebutuhan akan
informasi yang dapat diperoleh dengan cepat mulai dirasakan sebagai kebutuhan
mutlak , dan jarak serta lokasi bukanlah halangan lagi. Dari sinilah muncul
LMS. Perkembangan LMS yang makin pesat membuat pemikiran baru untuk mengatasi
masalah interoperability antar LMS yang satu dengan lainnya secara standar.
Bentuk standar yang muncul misalnya standar yang dikeluarkan oleh AICC (Airline
Industry CBT Commettee), IMS, SCORM, IEEE LOM, ARIADNE, dsb.
4. Tahun 1999 sebagai tahun Aplikasi E-learning
berbasis Web. Perkembangan LMS menuju aplikasi E-Learning berbasis Web. Perkembang
secara total, baik untuk pembelajar (learner) maupun administrasi belajar
mengajarnya. LMS mulai digabungkan dengan situs-situs informasi, majalah, dan
surat kabar. Isinya juga semakin kaya dengan perpaduan multimedia , video
streaming, serta penampilan interaktif dalam berbagai pilihan format data yang
lebih standar, dan berukuran kecil.
3.
Karakteristik
E-Learning
E-learning memiliki beberapa
karakteristik. Karakteristik E-Learning, antara lain:
a. Memanfaatkan jasa teknologi elektronik (informasi
dan komunikasi); di mana guru dan siswa, siswa dan sesama siswa atau guru dan
sesama guru dapat berkomunikasi dengan relatif mudah dengan tanpa dibatasi oleh
hal-hal yang protokoler. Teknologi yang digunakan dapat berupa internet
sehingga penyampaian pesan dan komunikasi antara pebelajar dengan pebelajar,
pebelajar dengan pembelajar, dan pembelajar dengan pembelajar dapat dilakukan
secara mudah dan cepat.
b. Memanfaatkan keunggulan komputer (digital media
dan computer networks).
c. Menggunakan bahan pelajaran yang bersifat mandiri
(self learning materials) disimpan di komputer sehingga dapat diakses oleh guru
dan siswa kapan saja dan di mana saja bila yang bersangkutan memerlukannya.
Dengan menggunakan e-learning, pebelajar dituntut untuk melepaskan
ketergantungannya terhadap pembelajar karena pembelajaran tidak dilakukan
secara langsung. Dabbagh (2007) menjelaskan online learner harus memiliki
kemampuan learn how to learn, memiliki disiplin, mampu memonitor
perkembangannya sendiri, mampu memotivasi diri, dan mampu memanajemen diri.
Intinya, dengan menggunakan E-Learning pembelajar dituntut untuk dapat
mengorganisir dirinya sendiri dalam belajar. Oleh karena itu pembelajar harus
dapat mendesain E-Learning yang dapat memotivasi pebelajar. Menurut Allen (2007)
memotivasi pebelajar dalam E-Learning dapat dilakukan melalui konteks,
tantangan, aktivitas yang bervariasi, dan umpan balik yang membangun.
d. Memanfaatkan jadwal pembelajaran, kurikulum,
hasil kemajuan belajar dan hal-hal yang berkaitan dengan administrasi
pendidikan dapat dilihat setiap saat di komputer.
e. Materi pembelajaran dapat disimpan di komputer.
f. Memanfaatkan komputer untuk proses pembelajaran
dan juga mengetahui hasil kemajuan belajar, administrasi pendidikan, serta
untuk mengetahui informasi yang banyak dari berbagai sumber informasi. Dari
beberapa karakteristik ini, diperoleh pengetahuan bahwa pengembangan E-Learning
tidak semata-mata hanya menyajikan materi pelajaran secara online saja, namun
harus komunikatif dan menarik. Materi pelajaran didesain seolah siswa belajar
di hadapan guru melalui layar komputer yang dihubungkan melalui jaringan
internet. Untuk dapat menghasilkan E-Learning yang menarik dan diminati, Onno
W. Purbo (2002) mensyaratkan tiga hal yang wajib dipenuhi dalam merancang
E-Learning, yaitu “sederhana, personal, dan cepat”. Sistem yang sederhana akan
memudahkan siswa dalam memanfaatkan teknologi dan menu yang ada, dengan
kemudahan pada panel yang disediakan, akan mengurangi pengenalan sistem
E-Learning itu sendiri, sehingga waktu belajar siswa dapat diefisienkan untuk
proses belajar itu sendiri dan bukan pada belajar menggunakan sistem ELearning
nya. Syarat personal berarti pengajar dapat berinteraksi dengan baik seperti
layaknya seorang guru yang berkomunikasi dengan siswa di depan kelas. Dengan
pendekatan dan interaksi yang lebih personal, siswa diperhatikan kemajuannya,
serta dibantu segala persoalan yang dihadapinya. Hal ini akan membuat siswa
betah berlama-lama di depan layar komputernya. Secara ringkas, E-Learning perlu
diciptakan seolah-olah peserta didik belajar secara konvensional, hanya saja
dipindahkan ke dalam sistem digital melalui internet. Karena itu E-Learning
perlu mengadaptasi unsur-unsur yang biasa dilakukan dalam sistem pembelajaran
konvensional. Misalnya dimulai dari perumusan tujuan yang operasional dan dapat
diukur, ada apersepsi atau pre tes, membangkitkan motivasi, menggunakan bahasa
yang komunikatif, uraian materi yang jelas. Contoh-contoh konkrit, problem
solving, tanya jawab, diskusi, post test, sampai penugasan dan kegiatan tindak
lanjutnya. Oleh karena itu merancang E-Learning perlu melibatkan pihak pihak
terkait, seperti pengajar, ahli materi, ahli komunikasi, programmer dan ahli
ahli lain yang terkait.
BAB
III
PENUTUP
1. Kesimpulan
E-Learning merupakan sistem
atau konsep pendidikan yang memanfaatkan teknologi informasi dalam proses
belajar mengajar. E-Learning memiliki karakteristik, diantaranya :
1. Memanfaatkan jasa teknologi elektronik (informasi
dan komunikasi).
2. Memanfaatkan keunggulan komputer (digital media
dan computer networks).
3. Menggunakan bahan pelajaran yang bersifat mandiri.
4. Memanfaatkan jadwal pembelajaran, kurikulum,
hasil kemajuan belajar dan hal-hal yang berkaitan dengan administrasi
pendidikan dapat dilihat setiap saat di komputer.
5. Materi pembelajaran dapat disimpan di komputer.
6. Memanfaatkan komputer untuk proses pembelajaran
dan juga mengetahui hasil kemajuan belajar, administrasi pendidikan, serta
untuk mengetahui informasi yang banyak dari berbagai sumber informasi.
2. Saran
Bagi para pendidik,
calon pendidik, atau orang-orang yang terjun dalam dunia pendidikan hendaknya dapat
menggunakan pemanfaatan teknologi informasi yang saat ini sedang maju pesat. Sehingga
pembelajaranpun dapat berjalan dengan efektif dan menarik.
DAFTAR
PUSTAKA
SaefudinSa’ud, Udin, InovasiPendidikan.Bandung
:Alfabeta, 2008. Sinarharapan
Selasa, 23 Juli 2019
Musuh Utama Agama Itu Diri Sendiri
Setelah menulis
judul ini sebagai penulis mungkin menduga akan banyak menggugatnya. Bagi
kalangan yang suntuk mempelajari agama, membaca lembaran- lebaran kitab
sucinya, meresapi permenungannya atau menghapal ayat -- ayat penting yang
menjadi modal manusia beragama. Penulis tahu betapa sensitifnya agama saat ini
sehingga menghinanya saja sudah mendapat sangsi sosial sangat berat. Siapa yang
mengkritik agama akan mendapat perlawanan karena banyak laskar yang akan membela
mati- matian dengan doktrin ketatnya.
Sumber Konflik Agama itu Egoisme
Lalu esensi
sebenarnya beragama itu apa? Untuk syarat menuju Surga, syarat membangun moral,
membangun peradaban atau sekedar tidak dianggap Atheis. Yang penulis tahu
esensi beragama adalah mendekatkan manusia pada Pencipta alam semesta,
menyayangi Tuhan karena telah memberi kehidupan, memberi kebahagiaan, memberi
kesenangan namun juga memberi ujian- ujian yang menguatkan mental sebagai
manusia yang harus tangguh menghadapi kesulitan ujian kehidupan dan nasib
buruk.
Mengapa banyak
agama sekarang ini amat takut dengan intervensi agama lain, merasa tersaingi,
merasa terancam ketika ada orang yang berusaha mengajarkan kebaikan dengan cara
agama mereka. Keterancaman membuat penganut agama terpancing untuk melakukan
perlawanan, membenci dan menganggap musuh agama lain. Kejadiannya bisa ditebak,
sejak agama wahyu bermunculan tidak kurang- kurang konflik bermunculan. Perang
terus berkecamuk hingga memakan korban ribuan bahkan jutaan manusia tiap tahunnya. Jika agama- agama dunia saling
berkonflik apa relevansinya dengan ajaran inti yaitu kasih sayang. Apakah demi
membela agama mereka melupakan esensi untuk menghormati Sang Pencipta dengan
cara saling menebarkan kasih sayang? Banyak yang lupa ketika larut dalam
doktrin agama setiap agama selalu
mengajarkan kasih sayang, cinta, saling menghargai, mencinta sesama dengan
tulus tanpa embel- embel.
Sayangnya manusia selalu lupa bahwa agama yang
muncul di dunia adalah untuk mengendalikan manusia dari kejahatan, kekejian,
melorotnya peradaban, pelecehan seksual, pengendalian nafsu sex dan kemudian
terlembaga dalam aturan yang membatasi
manusia melakukan tindakan asusila,menjaga manusia berpikir rasional, beda dengan
naluri makhluk lain seperti hewan dan makhluk lain yang tidak diberi
keistimewaan serupa dengan Tuhan. Musuh terbesar agama dan juga manusia adalah
diri sendiri. Hal terberat saat mencoba mendalami ajaran agama adalah bila
mampu mengalahkan nafsu diri sendiri, mengalahkan setan- setan yang bersemayam
dalam jiwa manusia. Sekarang banyak manusia yang secara identitas melabeli diri
sendiri suci dan Sholeh, namun bicaranya tingkah lakunya dan pergaulannya tidak
mencerminkan bahwa ia menjalankan ajaran agama dengan benar.
Suci hanyalah
yang terlihat di jasmaninya dengan baju- baju yang menempel di tubuhnya dan
gelar- gelar yang didapatkan dari perintah- perintah agama sebagai syarat untuk
mendapat gelar yang didamba banyak orang. Orang- orang politik saat ini
memanfaatkan agama demi meraih kekuasaan, meraup kepercayaan masyarakat yang
sebetulnya belum mengerti sepenuhnya
esensi beragama. Semuanya masih hitung- hitungan kebaikan dari matematika
jasmani.
Hitung- hitungan
kebaikan yang tercatat di mata? Apakah manusia menyadari bahwa disamping catatan
jasmani bathin manusia juga perlu mendapat pencerahan. Ketulusan manusia akan mendorong manusia tulus membiarkan
manusia lain melakukan ritual agama menurut kenyamanan diri pribadi. Hal
terberat adalah pengendalian diri, melawan musuh yang muncul dari manusia
sendiri. Jika membenci seseorang apakah manusia bisa memaafkan yang sedang
dibenci, apakah mampu melupakan dosa- dosa yang diperbuat manusia lain. Manusia
lebih piawai mencatat dosa dosa orang lain, lebih cerdas mengingat keburukan-
keburukan manusia lain daripada kesalahan -- kesalahan yang datang dari diri
sendiri. Ketika banyak negara- negara berbasis agama hancur sebetulnya musuhnya
bukan orang lain, musuh terbesarnya adalah agama mereka sendiri dan ego diri
yang lebih besar daripada mencoba memahami manusia lain dengan semua
keterbatasannya.
Egoisme manusia
telah membuat setan- setan merasuk dalam jiwa sehingga mendorong mereka manusia
berusaha menghakimi orang lain,
keyakinan lain, mazhab lain. Mereka
meyakini dirinyalah yang paling benar yang lain salah dan patut disingkirkan,
dibasmi. Banyak manusia membelokkan doktrin yang sebenarnya bila dipikirkan
mengajarkan kebaikan dan cinta kasih tetapi disalahartikan. Iblis yang paling
menakutkan adalah iblis yang datang dari nafsu manusia sendiri. Bisa jadi mesin
pembunuh paling keji adalah diri sendiri karena bila sudah yakin dirinya merasa
benar maka kebenaran lainnya diabaikan. Manusia yang sudah merasa benar susah
diberi masukan karena sudah tertutup kesombongan dan perasaan paling terpilih dibanding
makhluk lain.
Introspeksi dan Menelaah Nalar
Manusia
Cobalah membaca
buku buku Rabindranath Natagore, Ajahn Brahm, Antony de Mello, Sang Budha
Gautama, Sufi -- Sufi. Kyai -- Kyai langitan yang lebih sering merenung dan
berdoa dengan membuat permenungan, meditasi, melakukan tapa brata, puasa
ngebleng. Mereka yang berusaha melawan keinginan liar diri sendiri. Selalu
introspeksi bertanya pada bathin.
sumber : ilustrasi motivasinews.com
Semakin berdoa
akan semakin melihat banyak kekurangan diri sendiri yang perlu dibenahi. Surga
utama mereka adalah jika bisa mengalahkan hasrat diri sendiri untuk berusaha
menguasai orang lain dan menganggap dirinya sendirilah yang tersuci. Penulis
ingat pepatah dari ilmu padi; Semakin
berisi semakin merunduk, Semakin berilmu tentu akan semakin menyadari
keistimewaan orang lain dan menganggap orang lain layak dihargai siapapun dan
apapun profesinya karena setiap manusia adalah istimewa. Selintas Penulis
membaca buku Donald B Calne tentang Batas Nalar. Menurut Sopocles Nalar adalah
puncak Anugrah Allah kepada manusia dan seabad kemudian Aristoteles menulis
juga tentang nalar;Oleh karena itu bagi manusia, kehidupan berdasarkan nalar
adalah yang terbaik dan yang paling menyenangkan, karena lebih daripada apapun
juga, nalar adalah diri sendiri. Puncak kesadaran kehidupan manusia adalah
nalar ditambah dengan pemahaman akan agama maka seharusnya manusia bisa
terbebaskan dari tindakan keji sebab otak manusia sudah diberi keistimewaan
dengan mempunyai nalar dan pola pemikiran bijak yang ebrasal dari diri sendiri.
Ternyata meskipun
mempunyai nalar dan pendidikan tinggi tidak semua manusia bisa dan mampu
mengendalikan diri sendiri. Ketika gagal mengendalikan diri ada dorongan
manusia menjadi semakin menjauhkan diri dari rasionalitas, lebih dikendalikan
oleh ego hingga muncul pemikiran radikal. Saya sendiri masih jauh panggang dari
api karena untuk mengalahkan keinginan sendiri masih sulit, apalagi mencoba
menahan godaan untuk tidak merisak keyakinan orang lain. Kadang saya masih
merasa benci ketika ada orang berubah keyakinan. Padahal keyakinan sesungguhnya hak setiap
manusia, tetapi bagaimanapun manusia adalah makhluk terlemah ketika ia dibawa
pada godaan- godaan pada kekuasaan, kekayaan, kenikmatan, nafsu seksual dan
kerling mata beda jenis,Salam Damai Selalu.
Sumber :
Langganan:
Postingan (Atom)
